LELUCON rasial itu, oleh seorang supir bajaj, ditujukan kepada Minus dalam Keluarga Minus (Trans TV). Minus Caroba orang Papua. Sebagai tokoh sentral dalam tayangan yang memakai namanya ini, Minus dikisahkan tinggal bersama pamannya di Jakarta. Sang paman, bekerja sebagai pegawai Dinas Pariwisata dan membuka usaha warung makan yang dikelola oleh istrinya yang berasal dari Minang. Di warung itu, istrinya dibantu seorang pegawai asal Jawa bernama Paijo.
Suatu ketika, tante Minus mendapat pesanan nasi bungkus dalam jumlah besar. Paman Minus sudah mengingatkan istrinya, jika tidak mampu memenuhi permintaan pelanggan, tidak perlu memaksakan diri. Tapi sang istri ngotot. Maka itu, ia butuh tenaga bantuan untuk belanja ke pasar. Paijo menawarkan diri, "Siap. Yang penting sediakan duit bajaj, duit konsumsi, dan duit jalan." Tante Minus menolak tawaran Paijo, "Lebih baik sama Minus saja. Lebih hemat." Namun nasib sial menimpa Minus: daging yang sudah dibeli terbawa oleh bajaj yang ditumpanginya.
Dari cungkilan di atas, tante Minus (Minang) digambarkan sebagaKei sosok yang pelit dan serakah. Paijo (Jawa), memainkan karakter yang materialis, orang yang mementingkan uang. Minus (Papua), diidentifikasikan sebagai orang yang lugu dan bodoh. Keluarga Minus telah mengembangkan "konstruksi stereotip", narasi berdasarkan prasangka etnis. Stereotip adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008). Menurut Burton (2007), komedi dalam televisi ingin mengeksploitasi stereotip untuk membuat lucu karakter. Jika pemirsa Keluarga Minus tertawa, itu tandanya Trans TV telah berhasil melakukan eksploitasi stereotip dengan baik.
0 komentar:
Posting Komentar